‘Like me’ effect dalam bahasa: refleksi dari preferensi sosial yang bisa memengaruhi persepsi. Waspadai dampaknya dalam interaksi kita.
Bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, tahukah Anda bahwa cara kita menggunakan bahasa sehari-hari dapat mencerminkan bias sosial, terutama terkait ras dan gender? Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Nature Human Behaviour mengungkapkan bahwa bias ini muncul secara otomatis ketika kita memproduksi bahasa. Fenomena ini dikenal sebagai “like me” effect, di mana seseorang lebih cenderung menyebut orang yang mirip dengan dirinya terlebih dahulu dalam sebuah kalimat.
Apa Itu “Like Me” Effect?
“Like me” effect adalah kecenderungan manusia untuk menyebutkan orang yang memiliki karakteristik sosial yang sama dengan dirinya, seperti ras atau gender, di awal kalimat. Misalnya, ketika dua orang, satu pria dan satu wanita, berinteraksi dalam sebuah kejadian, seorang pria lebih cenderung untuk menyebut pria tersebut terlebih dahulu. Begitu juga sebaliknya dengan wanita. Penelitian ini menunjukkan bahwa efek ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok sosial saja, tetapi juga terlihat di berbagai kelompok demografis dan lintas bahasa, termasuk bahasa Inggris dan Mandarin.
Mengapa “Like Me” Effect Terjadi?
Efek ini terjadi karena cara otak kita bekerja saat memproduksi bahasa. Proses ini bersifat inkremental, artinya kita tidak merencanakan seluruh kalimat secara utuh sebelum mengucapkannya. Sebaliknya, kita menyusun kalimat kata demi kata, dengan kata-kata yang paling mudah diakses dalam memori biasanya disebutkan lebih dulu. Orang yang mirip dengan kita lebih mudah diingat dan diakses oleh otak, sehingga nama mereka sering kali muncul lebih awal dalam kalimat.
Baca juga:
Expert Sharing Session FPsi UM Bahas HRV dan Biofeedback dalam Praktik Psikologi
Tingkatkan kompetensi mahasiswa, FPsi UM hadirkan kuliah umum tentang penggunaan teknologi HRV. Psikologi UM - Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang menyelenggarakan Expert Sharing Session bertajuk “A Knowledge‑Frontier Session on HRV and Psychological...
Mahasiswa S2 dan Dosen Psikologi UM Dorong SDGs melalui Inovasi R.E.D Card untuk Penguatan Kesehatan Mental Mahasiswa Pejuang Skripsi
Dr. Hanggara Budi Utomo, M.Psi. memberikan materi dalam workshop kesehatan mental untuk membekali mahasiswa PGSD UM regulasi emosi dan motivasi akademik dalam menyelesaikan skripsi. Psikologi UM - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi...
Dampak Sosial dari Urutan Penyebutan Nama
Urutan penyebutan nama dalam sebuah kalimat mungkin terlihat sepele, tetapi memiliki dampak yang signifikan terhadap persepsi sosial. Nama yang disebutkan lebih dulu dalam sebuah kalimat cenderung diproses lebih dalam oleh pendengar dan dianggap lebih penting atau relevan. Dalam kalimat aktif, subjek yang disebutkan pertama sering kali dianggap sebagai agen yang lebih berkuasa atau bertanggung jawab atas tindakan yang dijelaskan.
Sebagai contoh, jika seseorang mengatakan “Andi bertemu dengan Siti,” Andi secara otomatis dianggap lebih aktif atau berperan dalam kejadian tersebut dibandingkan Siti. Namun, jika kalimatnya diubah menjadi “Siti bertemu dengan Andi,” maka persepsi terhadap peran keduanya bisa berubah. Efek ini bisa mempengaruhi bagaimana kita memandang peran gender dan ras dalam berbagai konteks sosial.
Implikasi bagi Kehidupan Sehari-hari
Penelitian ini memiliki implikasi yang luas, terutama dalam konteks pendidikan, komunikasi korporat, dan pengembangan teknologi seperti kecerdasan buatan. Bias yang tercermin dalam bahasa dapat mempengaruhi cara kita memandang dan memperlakukan orang lain, bahkan tanpa kita sadari. Misalnya, dalam konteks pendidikan, bias ini dapat mempengaruhi bagaimana guru memperlakukan siswa dari berbagai latar belakang. Di dunia kerja, bias ini bisa terlihat dalam cara kita menulis email atau menyusun laporan.
Untuk mengurangi dampak negatif dari “like me” effect, penting bagi kita untuk lebih sadar akan cara kita menggunakan bahasa. Salah satu caranya adalah dengan berlatih menyusun kalimat yang lebih seimbang dan adil, tanpa terlalu menekankan satu kelompok sosial di atas kelompok lainnya. Selain itu, dalam pengembangan teknologi, seperti sistem kecerdasan buatan, perlu ada upaya untuk memastikan bahwa bias-bias ini tidak diperkuat oleh algoritma yang digunakan.
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin dari struktur sosial dan bias yang ada dalam masyarakat. Dengan memahami dan menyadari keberadaan “like me” effect, kita dapat mulai mengatasi bias-bias yang tidak disadari ini dan menciptakan komunikasi yang lebih adil dan inklusif. Mengingat pentingnya bahasa dalam membentuk persepsi sosial, langkah-langkah kecil seperti ini bisa berdampak besar dalam menciptakan masyarakat yang lebih setara.
Referensi: Brough, J., Harris, L.T., Wu, S.H. et al. Cognitive causes of ‘like me’ race and gender biases in human language production. Nat Hum Behav (2024). https://doi.org/10.1038/s41562-024-01943-3
Penulis: Kukuh Setyo Pambudi






