Cheria Eka Humaira saat memberikan materi pembelajaran interaktif di depan kelas siswa Sanggar Belajar Sri Angkasa.

Psikologi UM – Cheria Eka Humaira adalah mahasiswa S1 Psikologi Universitas Negeri Malang yang turut serta dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa kegiatan mengajar dan mengenali emosi melalui pendekatan edukatif pada siswa kelas 1 di Sanggar Belajar Sri Angkasa, Klang, Malaysia. Kegiatan ini bertujuan membantu siswa mengenali, memahami, dan mengekspresikan berbagai emosi secara tepat. Melalui pembelajaran yang interaktif, siswa diajak memahami bahwa setiap emosi merupakan bagian alami dari kehidupan sehingga dapat dikenali dan dikelola secara positif. Kegiatan ini juga sesuai dengan teori perkembangan psikososial Erik Erikson, khususnya pada tahap Industry vs. Inferiority, di mana anak usia sekolah mulai mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan dalam menyelesaikan tugas.

Dengan memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan melibatkan partisipasi aktif siswa, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung perkembangan sosial dan emosional anak serta menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman.

Mahasiswa pengabdi duduk melingkar bersama para siswa saat menyampaikan permainan edukatif untuk mengenalkan berbagai jenis emosi.

Kegiatan dilaksanakan di Sanggar Belajar Sri Angkasa, Klang, Malaysia dengan melibatkan siswa kelas 1 dalam berbagai aktivitas edukatif yang menyenangkan. Mahasiswa memberikan permainan untuk mengenalkan berbagai emosi, seperti marah, sedih, bahagia, dan kecewa. Kemudian, siswa diajak memahami penyebab munculnya emosi, cara mengungkapkan perasaan secara tepat, serta pentingnya menghargai emosi diri sendiri maupun orang lain melalui simulasi situasi sehari-hari dan refleksi sederhana.

Baca juga:

Antusiasme para siswa saat memproses, mengimajinasikan, dan mengerjakan tugas refleksi emosi yang diberikan di dalam kelas.

Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif, berdiskusi, dan berlatih mengekspresikan emosinya dalam suasana yang aman dan mendukung. Menurut Erik Erikson, pengalaman positif dalam menyelesaikan tugas dan memperoleh dukungan dari lingkungan akan membantu anak mengembangkan rasa kompeten (industry), sedangkan kesempatan untuk mengenali dan mengelola emosi dapat memperkuat kepercayaan diri serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

Dampak Aktivitas dan Kontribusinya terhadap SDGs

Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa kelas 1 mengenai emosi serta pentingnya mengenali dan mengelola emosi sejak usia sekolah. Siswa menjadi lebih mampu mengungkapkan perasaan secara positif, meningkatkan empati terhadap teman, serta membangun hubungan sosial yang lebih baik di lingkungan sekolah. Dalam kegiatan ini juga memberikan pemahaman sejak dini tentang bagaimana mengelola emosi sehingga setiap individu dapat mulai memahami emosi dalam diri masing – masing. Berdasarkan teori Erik Erikson, kegiatan ini mendukung pencapaian tugas perkembangan pada tahap Industry vs. Inferiority, yaitu membantu anak membangun rasa percaya diri, kompetensi, dan kemampuan berinteraksi secara positif melalui pengalaman belajar yang bermakna. Dengan demikian, program ini secara langsung mendukung pencapaian SDG 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam meningkatkan kesehatan mental, kesejahteraan emosional, dan perkembangan sosial anak sebagai fondasi bagi tumbuh kembang yang optimal.

Salah satu mahasiswa pelaksana kegiatan mengatakan bahwa “Menurut saya, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar tentang emosi, tetapi juga belajar memahami perasaan sendiri dan menghargai perasaan teman. Kegiatan yang dilakukan dengan permainan membuat anak-anak lebih mudah memahami materi dan terlihat lebih berani dalam mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Para siswa tampil percaya diri dan antusias mengantre untuk maju ke depan kelas mengerjakan latihan soal.

.” Harapan saya kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan memberikan aktivitas edukatif yang lebih beragam dan interaktif. Kegiatan dapat dikembangkan tidak hanya pada pengenalan emosi, tetapi juga pada kemampuan anak dalam mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, diharapkan kegiatan berikutnya dapat melibatkan lebih banyak siswa serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, aman, dan mendukung perkembangan sosial maupun emosional anak.

Sesi foto bersama tim pengabdi dari Universitas Negeri Malang beserta para pengurus Sanggar Belajar Sri Angkasa di akhir kegiatan.

Pewarta: Cheria Eka Humaira