Ketika Algoritma Mengendalikan Kebebasan: Mengungkap Manipulasi Psikopolitik di Era Digital

by | Sep 19, 2024 | Blog/Artikel

Di era psikopolitik, opini kita terarah oleh kekuatan yang tak terlihat. Saatnya kritis pada setiap informasi yang masuk.

Algoritma dan Psikopolitik: Kontrol Halus atas Opini Publik

Dalam dunia digital modern, algoritma menjadi salah satu alat paling kuat mempengaruhi perilaku dan preferensi pengguna media sosial maupun internet. Byung-Chul Han seorang filsuf dari korea selatan banyak berbicara tentang peran teknologi digital dalam psikologi politik modern. Teknologi terutama media sosial dan platform digital lainnya telah menjadi alat baru untuk mengendalikan serta mengarahkan perilaku politik. Data yang dikumpulkan dari aktivitas online digunakan untuk memprediksi, memanipulasi, dan bahkan mengontrol perilaku manusia.

Dalam dunia modern, kita bisa melihat dengan algoritma yang menentukan berita apa yang kita lihat, iklan apa yang sering muncul di layar kita, dan bahkan bagaimana opini politik dibentuk. Teknologi telah menjadi alat psikopolitik yang sangat efektif, dimana kekuasaan dapat bekerja tanpa disadari oleh orang yang dikendalikan.

Salah satu contoh kasus dimana media sosial dan internet menjadi alat kontrol atas opini publik adalah saat kontestasi pemilihan presiden pada tahun 2024, dimana algoritma TikTok condong ke arah citra baik dari Prabowo Subianto, sedangkan Twitter condong ke kubu Anies Baswedan.

Ketika algoritma TikTok lebih condong mempromosikan konten yang mendukung Prabowo Subianto, dan Twitter lebih memunculkan konten yang mendukung Anies Baswedan, hal ini menciptakan ekosistem informasi yang terpolarisasi. Pengguna di setiap platform terpapar lebih banyak pada konten yang sesuai dengan kecenderungan politik tertentu, yang akibatnya membuat bias karena mengurangi paparan terhadap perspektif yang berbeda.

Kasus media sosial TikTok dan Twitter tersebut menunjukkan apa yang disebut Han sebagai “kebebasan yang dimanipulasi.” Di satu sisi, pengguna merasa mereka memiliki kebebasan untuk memilih dan mendukung kandidat politik berdasarkan informasi yang mereka lihat di media sosial. Namun, pilihan mereka sebenarnya dibentuk oleh algoritma yang secara selektif menampilkan konten tertentu. Dalam hal ini, kebebasan individu untuk menentukan pilihan politik mereka terjepit oleh kekuasaan yang tersembunyi di balik algoritma.

 

Baca juga:

Dampak Psikologis dan Sosial: Polarisasi dan Radikalisasi

Fenomena ini memiliki dampak psikologis dan sosial yang signifikan. Ketika algoritma memperkuat pandangan politik tertentu, pengguna menjadi semakin yakin dengan keyakinan mereka, yang dapat menyebabkan polarisasi di masyarakat. Polarisasi ini memperkuat perpecahan sosial dan politik, di mana individu dari kubu yang berbeda semakin sulit untuk berdialog untuk menemukan titik temu.

Selain itu, eksposur yang berlebihan terhadap konten yang bias dapat menyebabkan radikalisasi, di mana pengguna menjadi lebih ekstrim dalam pandangan politik merka. Ini menciptakan lingkungan yang semakin tidak toleran terhadap perbedaan pendapat dan memperkuat kekuatan politik yang menggunakan platform ini untuk kepentingan mereka.

Kasus Tiktok dan Twitter ini menunjukkan bagaimana kebebasan digital dapat digunakan sebagai alat kekuasaan dalam konteks psikopolitik di dunia modern. Algoritma, yang tampaknya netral, sebenarnya dapat digunakan untuk memanipulasi opini publik dan mengarahkan hasil politik. Dengan memahami ini, masyarakat harus lebih kritis dalam mengkonsumsi informasi di media sosial dan menyadari bahwa kebebasan mereka untuk memilih dan mengekspresikan diri mungkin tidak sepenuhnya independen, tetapi dipengaruhi oleh kekuatan yang tidak terlihat namun sangat kuat.

Kesimpulan: Waspada Terhadap Pengaruh Algoritma dalam Demokrasi
Kesadaran akan pengaruh algoritma sangat penting dalam menjaga integritas demokrasi dan memastikan bahwa kebebasan untuk memilih dan berpendapat benar-benar bebas dari manipulasi yang tidak disadari. Dalam kasus TikTok dan Twitter, di mana algoritma cenderung mempromosikan pandangan politik tertentu, kita melihat bagaimana kebebasan digital dapat dibentuk oleh kekuatan yang tersembunyi.
Agar demokrasi tetap kuat, masyarakat harus memahami dan mengkritisi cara kerja algoritma ini. Hal ini akan membantu mendorong lingkungan digital yang lebih transparan, di mana informasi disebarkan secara adil dan tidak terdistorsi oleh bias algoritmik. Dengan langkah ini, kebebasan individu dalam memilih dan berpendapat dapat benar-benar dihormati dan dilindungi, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi tanpa terpengaruh oleh manipulasi yang tidak terlihat.

Penulis: Muhammad Izzudin Haq