Ketika kita hanya fokus pada pencapaian, kita kehilangan makna dari setiap pengalaman. Luangkan waktu untuk merenung dan menikmati hidup.
Positive Power, Narsisme, dan Neoliberalisme
“Freedom turns out to be a form of control.” Kebebasan ternyata merupakan salah satu wujud dari kontrol. Kutipan ini berasal dari Byung-Chul Han, seorang filsuf modern Jerman kelahiran Korea Selatan, yang mengamati kondisi masyarakat kontemporer abad ini. Namun, apa sebenarnya maksud dari kutipan ini?
Byung-Chul Han memandang bahwa kondisi masyarakat saat ini berbeda secara mendasar dari zaman sebelumnya. Pemikirannya berpusat pada bagaimana ‘kuasa’ bekerja. Di masa lalu, masyarakat sebagian besar dikontrol melalui apa yang ia sebut sebagai ‘kuasa negatif’ (negative power). Negative power ini dapat dipahami sebagai segala bentuk kontrol yang diterapkan melalui pembatasan atau pelarangan, seperti “kau tidak bisa melakukan itu” atau “kau seharusnya tidak melakukan itu.” Sepanjang sejarah manusia, negative power adalah cara utama untuk mengontrol masyarakat.
Namun, Han berpendapat bahwa di zaman kapitalistik modern ini, kontrol manusia lebih sering dilakukan melalui ‘kuasa positif’ (positive power). Berbeda dengan negative power, positive power berbunyi seperti ini:
“Dirimu saat ini bisa menjadi apapun yang kamu mau! Tidak ada satu orang pun yang dapat memaksa dan menyuruhmu menjadi sesuatu; kau sendirilah yang mengemudikan hidupmu! Kau bisa menjadi ‘apapun’! Sekarang, karena kita telah menetapkan bahwa ‘kau bisa menjadi apa saja,’ saatnya untuk ‘kamu’ memilih ingin menjadi apa. Apakah kau adalah seseorang yang tanpa tujuan atau impian yang ingin dicapai?
Apakah kau adalah orang yang ingin mencapai mimpimu, atau apakah kau hanya ingin tidur-tiduran di kamar seumur hidupmu? Mau menjadi orang yang seperti apa dirimu?”
Artinya, jika kau bisa menjadi ‘apa saja,’ bukankah kau ingin menjadi seseorang yang memiliki posisi prestisius, tinggi, dan hebat sehingga tidak ada batasan dalam hidupmu? Bukankah itulah cara orang-orang dulu dikendalikan, melalui batasan dari luar dirinya? Tapi kini, kau tidak memiliki batasan apapun! Selama kau dapat bekerja sekeras mungkin, menundukkan kepala, fokus, grind, gapai tujuan jangka pendek, tetapkan tujuan baru, kemudian capai lagi, dan lagi. Satu-satunya orang yang menghalangimu untuk menjadi seorang milioner suatu saat nanti hanyalah dirimu sendiri! Dan sekarang adalah saatnya untuk menggapai tujuan-tujuan itu.”
Kebebasan sejati bukanlah tentang apa yang bisa kita capai, tetapi tentang bagaimana kita terhubung dengan orang lain. Mari kita hargai ‘yang lain’ dalam hidup kita.
Itulah positive power. Positive power mengatakan “kau bisa (can),” sementara negative power mengatakan “kau harus (should).” Dan sebagaimana kata Han, “can jauh lebih efektif daripada kenegativitas-an should.” Sehingga, ketidaksadaran sosial berubah dari should menjadi can.
Menurut Han, kita hidup di zaman ‘masyarakat penghargaan’ (achievement society). Tidak ada yang mengarahkan moncong pistol ke kepala kita dan mengatakan apa yang harus kita lakukan. Itu adalah taktik yang sudah kuno. Yang perlu dilakukan untuk mengendalikan orang adalah memberi tahu mereka ‘semua hal yang bisa mereka lakukan secara teori,’ jika saja mereka bisa membuat diri mereka seberharga mungkin dan jika saja mereka bisa bekerja cukup keras untuk membuat pikiran mereka seefisien dan seoptimal mungkin.
Baca juga:
Expert Sharing Session FPsi UM Bahas HRV dan Biofeedback dalam Praktik Psikologi
Tingkatkan kompetensi mahasiswa, FPsi UM hadirkan kuliah umum tentang penggunaan teknologi HRV. Psikologi UM - Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang menyelenggarakan Expert Sharing Session bertajuk “A Knowledge‑Frontier Session on HRV and Psychological...
Mahasiswa S2 dan Dosen Psikologi UM Dorong SDGs melalui Inovasi R.E.D Card untuk Penguatan Kesehatan Mental Mahasiswa Pejuang Skripsi
Dr. Hanggara Budi Utomo, M.Psi. memberikan materi dalam workshop kesehatan mental untuk membekali mahasiswa PGSD UM regulasi emosi dan motivasi akademik dalam menyelesaikan skripsi. Psikologi UM - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi...
Cukup beri tahu orang-orang hal itu, dan dalam usaha tanpa henti untuk memaksimalkan kemampuan mereka, mereka akan menghabiskan seluruh hidup mereka dengan rasa tidak pernah cukup baik, tidak pernah cukup berusaha, tidak pernah cukup efisien. Jika ada saat di mana mereka tidak menghabiskan waktu untuk menjadi seproduktif mungkin untuk menjadikan diri mereka lebih berharga, mereka akan merasa bersalah pada diri mereka sendiri.
Han mengatakan bahwa kita diberitahu dalam masyarakat ini untuk menjadi ‘otentik,’ karena ‘keotentikan’ adalah ukuran sejati dari seseorang yang bebas, seseorang yang tidak diberi tahu oleh siapapun tentang siapa mereka seharusnya menjadi. Namun, keotentikan menurut Han hanyalah kampanye iklan neoliberalisme.
Mengapa ia berpendapat demikian? Karena ketika kita mengatakan kepada orang-orang bahwa:
- Adalah tugas mereka sendiri untuk menentukan diri mereka sendiri, melalui diri mereka sendiri, dan tanpa bantuan eksternal;
- Adalah tugas mereka sendiri untuk menjadi penentu tunggal dalam menciptakan ‘standar’ bagi diri mereka sendiri dan apa yang mereka mampu lakukan;
- Adalah tugas mereka sendiri juga untuk memeriksa dan menentukan apakah mereka melakukan pekerjaan terbaik yang mereka bisa untuk memenuhi standar-standar tersebut;
hanya ada satu arah yang bisa ditempuh jika seseorang selalu dan secara konsisten ‘melihat ke dalam dirinya’ seperti itu.
Dan bagi Han, arah itu adalah menjadi seseorang yang ‘narsistik.’
Itulah mengapa di mana pun kita berada saat ini, hampir setiap orang tidak lagi sekadar menjadi ‘seorang individual,’ melainkan diri mereka adalah ‘proyek pribadi’ masing-masing individu. Masing-masing dari diri mereka adalah sebuah kebun yang harus mereka kembangkan sendiri. Kita mengubah diri kita menjadi komoditas dengan nilai pasar. Semua yang kita pelajari, bukan hanya untuk belajar, melainkan untuk ‘investasi’ pada diri kita sendiri. Semuanya tentang mengoptimalkan diri agar bisa bekerja dan berproduksi lebih efektif dan efisien.
Yang paling menarik dari semua ini adalah jika ada seseorang yang menyebut seseorang sebagai seorang “narsisis,” Ia bisa dengan mudah menyebut mereka sebagai pecundang atau pemalas. “Mereka tidak mengejar impian mereka seperti saya. Mereka tidak akan pernah memahami tingkat kerja keras yang saya lakukan untuk mencapai tujuan saya.”
Jika ia berada dalam suatu hubungan percintaan atau pertemanan dan orang lain mengatakan bahwa dirinya terlalu fokus pada diri sendiri dan proyek-proyek pribadinya sehingga menyebabkan masalah dalam hubungan tersebut, Ia hanya tinggal menjawab “Waduh, berada dalam suatu hubungan? Terlalu banyak ‘drama’ bagi saya saat ini dalam hidup saya. Saya tidak punya ruang untuk semua itu. Saya harus fokus pada diri sendiri dan nilai pasar saya sendiri dulu.” Ini adalah alasan yang bagus untuk membuat seseorang merasa bahwa masalah itu berasal dari kekurangan orang lain, daripada dari dirinya yang terlalu fokus pada diri sendiri.
Dan ketika delusi narsistik seseorang sudah separah itu, hal tersebut menjadi mulai memiliki kemiripan dengan ‘agama’.
Han berkata:
“the infinite work on the ego resembles self-observation and self- examination in the protestant religion, and they, in turn, represent a technique of subjectivation and domination. instead of looking for sins, now negative thoughts are the ones to be sought, the ego struggles with itself as against an enemy.”
usaha yang tak terbatas pada ego memiliki kemiripan dengan observasi diri dan introspeksi diri dalam agama protestan, dan pada akhirnya, hal tersebut merepresentasikan sebuah teknik subjektivasi dan dominasi. alih-alih mencari dosa, kini pikiran negatiflah yang dicari, ego bergulat dengan dirinya sendiri bagaikan melawan seorang musuh.
Bahkan, hal-hal seperti hutang kartu kredit berubah menjadi sesuatu yang menyerupai hutang religius yang harus dibayar. Layaknya konsep dosa dalam agama abrahamik, satu-satunya cara bertobat dan menghapuskan dosa ‘berhutang kartu kredit’ hanyalah melalui partisipasi kedalam ibadah narsisme yang digerakkan oleh pasar dan pencapaian suatu prestasi. Sehingga, seorang narsisis merupakan suri teladan moral masyarakat neoliberal.
Menurut Han, ‘neoliberalisme’ merupakan konsep yang tak terpisahkan dengan narsisme dan achievement society. Mengapa demikian? Han meyakini bahwa cara masyarakat kita terstruktur mendorong orang-orang untuk menjadi narsis karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Sama seperti di masa lalu, di mana ada jalur kehidupan yang umum (bersekolah, lulus, mendapatkan pekerjaan, menikah, memiliki anak, membeli rumah, dan seterusnya), Han berpendapat bahwa dalam masyarakat neoliberal saat ini, menjadi narsis adalah jalur yang banyak orang pilih karena tekanan-tekanan dari nilai-nilai yang ada di dunia saat ini.
Neoliberalisme sendiri merupakan strategi yang muncul pada akhir tahun 1980-an ketika ekonomi barat semakin terglobalisasi. di mana dalam upaya untuk tetap kompetitif, negara-negara seperti Amerika Serikat dan Inggris berpikir bahwa jika pemerintah dapat menyingkir dari dunia usaha, melakukan deregulasi secara besar-besaran, menurunkan pajak, maka hal ini akan membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan tersebut untuk meningkatkan produksinya, yang kemudian akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.
Lapangan kerja ini akan diberikan kepada masyarakat kelas menengah yang akan membelanjakan uangnya kembali ke dalam perekonomian, sehingga hal ini akan membawa kemakmuran bagi semua orang.
David harvey menyebut neoliberalisme sebagai: “sebuah teori praktik ekonomi politik yang mengusulkan bahwa kesejahteraan manusia dapat dimajukan dengan semakin meningkatkan kebebasan berwirausaha dan keterampilan individu dalam kerangka kerja institusional yang dicirikan oleh hak milik pribadi yang kuat, pasar bebas, dan perdagangan bebas.”
Dari sinilah Han mengutarakan pendapatnya: Dalam masyarakat neoliberal, yang menjadi pusat perhatian adalah mengurangi regulasi pada perusahaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Pola pikir yang sama diterapkan pada individu, yang tertuang dalam maksim, “Jadilah apa pun yang Anda inginkan!” Gagasannya adalah bahwa “tidak ada lagi yang akan mengatur kamu secara eksternal—potensi kamu tidak terbatas. Dirimu sekarang menjadi layaknya sebuah komoditas, dan tugasmu adalah meningkatkan nilai pasar kamu dengan terus menerus mengembangkan diri.”
Obsesi terhadap diri sendiri ini bukan karena orang-orang pada dasarnya lebih narsis saat ini; melainkan ini adalah cerminan dari dunia tempat kita hidup. Seperti yang dikatakan oleh Byung-Chul Han, narsisme sama pentingnya untuk bertahan hidup saat ini seperti halnya air bagi ikan.
Penting untuk dicatat bahwa narsisme memiliki konotasi negatif, tapi bukan berarti Han mencoba mengkritik kasar seseorang. Sebaliknya, dia menyoroti bagaimana kecenderungan narsisisme ini dapat menjadi tidak terkendali atau dapat mendominasi kepribadian seseorang jika dia tidak menyadari bagaimana pengaruh masyarakat yang mendorongnya ke arah tersebut.
Burnout, Auto-exploitation, Kecemasan, dan Depresi
Jadi, apa yang terjadi di dunia ini di mana begitu banyak orang hanya berfokus pada diri mereka sendiri, menetapkan standar mereka sendiri, dan merasa bersalah atas apa pun yang tidak membuat mereka lebih efisien dan teroptimalkan? Yang terjadi adalah naiknya tingkat depresi dan kecemasan. Lihatlah lingkungan sekitar kita saat ini, dimana kasus-kasus depresi menjadi marak, mungkin hal tersebutlah penyebabnya.
Pikirkan tentang kehidupan kita sendiri; mungkin banyak dari kita yang bisa relate dengan hal ini. Seorang individu menetapkan tujuan, bermimpi menjadi sosok ideal dari dirinya, dan mendorong diri sendiri tanpa henti untuk memaksimalkan segala sesuatu tentang dirinya. Tetapi kemudian ia bangun keesokan harinya dan mendorong lebih keras lagi-sampai suatu hari, ia hancur. Karena tidak ada seorang pun yang seharusnya terus menerus memaksakan dirinya. Dan kemudian, seolah-olah hal tersebut belum cukup, sering kali ia merasa benci pada dirinya sendiri, merasa tidak memiliki motivasi untuk menjadi diri sendiri yang ia idamkan. Ini adalah jenis penyiksaan yang sungguh luar biasa.
Bayangkan di masa lalu, seperti pada abad pertengahan, jika seseorang lahir sebagai petani. Ia diberikan peran sosial yang jelas. Setiap hari Ia bekerja keras, namun Ia tahu persis siapa dirinya. Ia tidak mencoba meningkatkan keterampilan mengolah tanah sebesar 1% setiap hari demi menjadi “petani senior” suatu hari nanti. Dalam masyarakat seperti ini, jika seorang petani ingin memperbaiki diri, biasanya perbaikan itu dilakukan di bidang spiritual. Pekerjaan yang Ia lakukan kebanyakan bersifat fisik, dan jika Ia kelelahan, biasanya cukup mengambil satu hari libur seminggu, dan tubuhnya akan pulih dengan sendirinya.
Namun, dalam dunia pschopolitic, di mana seseorang terus-menerus dituntut untuk memaksimalkan kemampuan dirinya, kelelahan dapat menyebabkan apa yang oleh Byung-Chul Han disebut sebagai burnout. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan hanya mengambil cuti sehari. Depresi yang Han bicarakan bisa membuat seseorang terjebak dalam kondisi itu selama bertahun-tahun.
Tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini lebih berakar pada depresi daripada represi. Tidak seperti masyarakat di masa lalu di mana kekuatan eksternal menindas individu, saat ini kita justru lebih sering menindas diri kita sendiri. Kita didorong untuk ‘mengeksploitasi diri kita sendiri’, yang membuat kebebasan modern menjadi alat kontrol yang subtil namun kuat. Kita menjadi tuan sekaligus budak dari pikiran kita sendiri, terus-menerus mendorong diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik, melakukan lebih banyak hal, dan berhenti mengeluh.
Antara kita gagal memenuhi harapan kita sendiri, yang menyebabkan kelelahan dan keputusasaan, atau kita mencapai tujuan kita hanya untuk segera mengejar tujuan yang baru. Pikiran manusia itu mudah gelisah, selalu mencari target pencapaian berikutnya. Bahkan ketika kita berhasil, kita tetap merasa cemas, kelelahan, dan selalu tidak puas.
Sayangnya, tidak ada yang datang untuk menyelamatkan kita karena, seperti yang kita tahu, kecemasan mendorong produktivitas. Dari sudut pandang ekonomi, akan bermanfaat bagi kita untuk terus merasa cemas dan berproduksi. Depresi dan kecemasan adalah jebakan yang sering menjerat banyak orang, terutama di dunia modern di mana teknologi memperkuat kecenderungan ini.
Otherness dan Hubungan Transaksional
Apa yang pada akhirnya akan ia kemukakan, dan apa yang akan kita bahas secara mendetail, adalah bahwa kehidupan modern telah kehilangan sesuatu yang sangat penting yang telah membuat semua hal ini menjadi begitu lumrah: kehadiran “ yang lain.” Hal ini masuk akal, karena jika dunia saat ini mendorong masyarakat untuk terlalu fokus pada diri mereka sendiri, maka yang hilang adalah segala sesuatu di luar diri mereka yang secara historis telah memberikan nilai dalam kehidupan mereka. Han menyebutnya sebagai ‘yang lain’, ‘perbedaan’, ‘yang tersembunyi’, ‘ketidaksempurnaan’, istilah-istilah yang dapat saling menggantikan saat membahas apa yang tidak ada dalam pandangan dunia yang sepenuhnya narsistik. Dan ketika kita mulai memperhatikannya, Han mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini secara perlahan-lahan berubah menjadi ‘serupa’.
Ia berkata,
“the terror of the same affects all areas of life today. one travels everywhere, yet does not experience anything. one catches sight of everything yet reaches no insight. one accumulates information and data, yet does not attain knowledge. one lusts after adventures and stimulation, but always remains the same. one accumulates online friends and followers, yet never encounters another person.”
Teror dari ‘per-sama-an’ mempengaruhi semua bidang kehidupan saat ini. Seseorang bepergian ke mana-mana, namun tidak memiliki pengalaman apa pun. Seseorang melihat segala sesuatu, namun tidak memperoleh suatu wawasan baru. Seseorang mengakumulasikan informasi dan data, namun tidak memperoleh pengetahuan apapun. Seseorang berhasrat untuk berpetualang dan menstimulasi diri, namun selalu berakhir sama seperti sebelumnya. Seseorang mengakumulasikan teman dan pengikut secara online, namun tidak pernah bertemu dengan orang lain.
Mari kita uraikan apa yang dimaksud oleh Byung-Chul Han dengan gagasan ini dan bagaimana teknologi memainkan perannya. Namun pertama-tama, mari kita bahas reaksi yang mungkin akan muncul dari sebagian orang. Ketika Han mengatakan bahwa semua orang di dunia ini berubah menjadi hal yang sama, beberapa orang mungkin berpikir: “ Bukankah masalah sebenarnya adalah orang-orang tidak memiliki cukup ‘ ke-lain-an ‘ dalam hidup mereka?” Banyak yang percaya bahwa masalah masyarakat justru sebaliknya, bahwa orang-orang dengan cepat melabeli orang lain sebagai “yang lain” secara tidak tepat. Tribalisme ini menyebabkan orang melihat seseorang yang memiliki pandangan yang berlawanan bukan sebagai manusia lain, tetapi sebagai ‘musuh’. Hal ini mengarah pada orang-orang yang memang berbicara satu sama lain, namun tanpa mampu melakukan percakapan yang bermakna.
Menurut Han, apakah itu yang bisa disebut sebagai interaksi yang tulus dengan “yang lain”? Apakah itu benar-benar bertemu dan mempertimbangkan ide-ide yang tidak kita setujui, atau apakah itu hanya cara yang terselubung untuk mengkonfirmasi bias kita sendiri? Apakah kita benar-benar mencoba untuk memahami orang lain dan apa yang mereka rasakan, atau apakah ini hanyalah bentuk lain dari afirmasi diri yang narsistik?
Pernahkah anda mendapati diri anda berada di satu sisi dari sebuah isu sosial, menulis komentar, hanya untuk mendapati seseorang dari sisi lain menampar balik Anda? Pernahkah anda merasa bahwa orang tersebut benar-benar memahami dari mana anda berasal? Apakah mereka terlihat peduli untuk berusaha memahaminya? Mungkin tidak. Mereka tampaknya tidak tertarik untuk menghadapi perbedaan atau memahami orang lain. Apa yang mereka inginkan adalah agar semua orang berpikir dengan cara yang sama seperti mereka. Segala sesuatu harus selaras dengan pandangan mereka.
Mendengarkan orang lain, mengesampingkan ego kita, dan benar-benar merasakan perspektif orang lain bisa terasa sangat tidak nyaman. Hal ini memaksa kita untuk menghadapi keterbatasan sudut pandang kita sendiri dan melihat orang lain sebagaimana adanya—sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kita—bukan hanya dalam hal bagaimana mereka dapat menguntungkan kita.
Dalam achievement society ini, banyak orang tidak memiliki hubungan yang mendalam dan bermakna. Pertemanan mereka sering kali bersifat transaksional, yang berfungsi untuk meningkatkan nilai pasar mereka atau memperkuat citra yang mereka miliki tentang diri mereka sendiri. Seorang narsisis senang mengelilingi diri mereka dengan orang-orang yang sama seperti mereka, yang setuju dengan semua yang mereka katakan, dan yang memberi tahu mereka bahwa semua yang mereka lakukan baik-baik saja. Tidak mungkin ada perspektif lain di luar sana yang sama validnya dengan perspektif mereka.
Perilaku ini meluas ke bagaimana mereka bereaksi ketika dihadapkan pada ide-ide baru yang mengubah perspektif, bukan hanya pada satu hal, tapi juga terhadap dokumenter, video, podcast, atau apa pun. Mereka tidak pernah terbuka untuk menerima ide-ide yang berada di luar zona nyaman mereka. Mereka lebih suka terlibat dengan konsep-konsep baru yang sebagian besar sejalan dengan apa yang sudah mereka yakini. Ini adalah cara lain seorang narsisis mengisolasi diri mereka sendiri, secara halus menjauhkan diri dari orang lain.
Semua ini bukanlah tentang terlibat dengan perbedaan sejati. Ini hanyalah sebuah ilusi. Seperti yang dikatakan Han, ‘yang lain’ itu tidak ada bandingannya. Bahkan ketika kita mencoba untuk memahami seseorang atau ide-ide mereka dengan membandingkannya dengan kategori yang telah kita buat sebelumnya, kita masih kehilangan esensi dari apa yang membuat mereka benar-benar berbeda. Melihat orang lain melalui lensa kita sendiri akan mengurangi keindahan mereka yang sebenarnya, mereduksi mereka menjadi keragaman belaka.
Hal ini menyebabkan krisis koneksi dan kasih sayang di dunia modern. Orang-orang menginginkan keseragaman dalam segala hal dan semua orang. Contoh sederhananya adalah ketika seseorang mengambil foto selfie dan menggunakan filter untuk memperhalus ketidaksempurnaan, mengubah diri mereka menjadi standar kecantikan yang sebenarnya bukan diri mereka sendiri. Han berpendapat bahwa ketika anda menanggalkan keanehan seseorang, anda tidak akan pernah bisa benar-benar memberikan kasih sayang kepada mereka—anda hanya bisa mengkonsumsinya. Hal yang sama berlaku untuk ide: ketika anda menghilangkan keberbedaan mereka, mereka tidak dapat benar-benar memengaruhi anda—anda hanya bisa mengkonsumsinya. Interaksi sejati dan pertimbangan yang tulus kepada ‘yang lain’ adalah hal yang hilang pada banyak orang di dunia saat ini. Pola pikir ini, menurut Han, diperkuat oleh teknologi yang kita semua gunakan, yang mendorong isolasi lebih lanjut, hampir seperti kecanduan.
Teknologi Isolasi
Ketika anda sedang online, jika anda menemukan sesuatu yang membuat anda tidak nyaman, anda tidak perlu terlibat dengannya. anda cukup mengeklik atau menggeser ke video lain, dan algoritma akan beradaptasi untuk membuat anda tetap terlibat, apa pun kontennya. tujuan algoritma ini adalah untuk membuat anda tetap terpikat.
Menurut Han, pada akhirnya kita mempropagandakan diri kita sendiri. Kita hidup di zaman di mana kita terus-menerus dibombardir dengan informasi level permukaan di ponsel kita. Kita memiliki lebih banyak akses ke informasi daripada generasi sebelumnya, tetapi Han berpendapat bahwa dunia ini lebih dari sekadar data, dan layar menawarkan pandangan yang terdistorsi tentang realitas. Hal ini menyebabkan ego yang terfragmentasi.
Han membuat perbandingan antara smartphone dan simbol-simbol historis kontrol, seperti merek budak atau surat merah. Dia melihat smartphone sebagai padanan modern yang tidak hanya melambangkan tetapi juga memperkuat rasa dominasi kita.
Ia menyamakan smartphone dengan artefak religius, seperti rosario dan tasbih, yang digunakan oleh para pengikutnya selama ritual mereka. Selain sebagai alat untuk pengawasan, ponsel pintar juga berfungsi sebagai alat pengakuan dosa secara digital, dengan platform seperti Facebook yang berfungsi sebagai gereja digital. Sebuah ‘like’ mirip dengan “amin” digital, dan alih-alih mencari pengampunan, kita justru mencari perhatian. Han percaya bahwa hampir semua hal tentang smartphone bertentangan dengan pemikiran dan kebebasan sejati.
Untuk memahami maksudnya, kita perlu membedakan antara pemikiran sejati dan apa yang sering dianggap sebagai berpikir pada masa kini. Ambil contoh TikTok, misalnya. Ini adalah representasi yang jelas dari masalah ini, tetapi ini berlaku untuk sebagian besar internet.
Di TikTok, anda terus menerus men-scroll video dan dibombardir dengan informasi. Namun, tidak ada perenungan mendalam didalamnya. Daya tarik platform ini terletak pada kemampuannya untuk menarik perhatian anda tanpa perlu berpikir panjang. Kontennya bersifat referensial; anda tidak perlu menghubungkan apa yang anda tonton dengan pemahaman yang lebih luas tentang dunia. Misalnya, satu video mungkin menunjukkan seseorang menari dengan lagu yang tidak mereka ciptakan, sementara video lainnya menampilkan proyek pembuatan kue yang mewah tanpa substansi yang berarti.
Kurangnya kedalaman ini merupakan bagian dari daya tarik platform ini, tetapi ini juga berarti bahwa pengalaman-pengalaman ini tidak terhubung dengan sesuatu yang signifikan atau bermakna. Orang sering kali mempertanyakan mengapa begitu banyak hal yang mereka konsumsi terasa tidak berarti.
Inilah yang dia maksudkan dengan kutipan sebelumnya tentang “teror yang sama” yang mempengaruhi semua bidang kehidupan. Bepergian ke mana-mana tetapi tidak benar-benar mengalami apa pun. Melihat segala sesuatu tetapi tidak mendapatkan wawasan. Mengonsumsi informasi namun tidak mendapatkan pengetahuan yang sesungguhnya. Mendambakan petualangan dan stimulasi tetapi tetap tidak merasakan perubahan. Mengumpulkan teman dan followers tetapi tidak pernah benar-benar bertemu dengan siapa pun.
Ini karena, di dunia yang serba cepat saat ini, anda bisa menggeser-geser video, membaca sekilas permukaan dari pengalaman dunia. Jika anda membiarkannya, pemahaman yang dangkal ini dapat meresap ke dalam setiap pengalaman yang anda miliki.
Byung-Chul Han berpendapat bahwa pengetahuan, makna, dan kebenaran yang sejati hanya akan muncul jika anda merenungkan bagaimana momen saat ini terhubung dengan masa lalu dan masa depan. Tidak ada waktu untuk perenungan seperti itu ketika anda terus-menerus bergulir dari satu distraksi ke distraksi lainnya. Dibutuhkan niat untuk memperlambat dan memeriksa bagaimana distraksi-distraksi ini berdampak pada kita.
Bayangkan seseorang yang membaca cepat sebuah buku, menyerap semua informasi tetapi segera melupakannya. Tanpa merefleksikan bagaimana informasi tersebut sesuai dengan konteks yang lebih luas, informasi tersebut hanya akan menjadi data mentah. Demikian pula, jika kita terjebak dalam narsisme yang dangkal, tidak pernah benar-benar mempertimbangkan orang lain, kedangkalan itu akan membatasi kedalaman setiap pengalaman yang kita miliki.
Contemplative Thinking
‘Kedangkalan’ ini menurut Han adalah salah satu akibat dari hidup pada achievement society dan ‘berefleksi’ adalah contoh pertama dari hal yang bisa dilakukan untuk melepaskan diri dari cengkeraman achievement society ini.
Strategi umum, yang berlaku untuk banyak bidang dalam kehidupan, dapat diringkas secara sederhana: kita perlu menemukan cara untuk memperkenalkan kembali hal-hal negatif – atau “keanehan” – ke dalam kehidupan kita.
Pikirkanlah, kita hidup dalam masyarakat di mana orang-orang sering didorong ke dalam jalur yang mengarah pada perasaan burnout, kecemasan, dan depresi. Hal ini terjadi sebagian karena mereka terlalu fokus pada diri mereka sendiri, memperlakukan hidup sebagai proyek pribadi.
Namun jika anda perhatikan, ketika orang-orang dalam masyarakat ini bertambah dewasa, mereka sering kali mulai melakukan hal-hal seperti mengesampingkan ego mereka, lebih banyak mendengarkan, benar-benar mempertimbangkan ide-ide dari luar, dan memperlambat diri untuk mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar mereka.
Menurut Byung-Chul Han, hal ini bukanlah suatu kebetulan. Setiap tindakan ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya “yang lain” untuk menjalani kehidupan yang baik. Dan itu tidak berhenti sampai di situ.
Han berbicara tentang pentingnya menemukan momen di mana kita dapat benar-benar mendengarkan orang lain, apa adanya. Mendengarkan seseorang, tidak hanya dalam hal bagaimana mereka bermanfaat bagi kita, dan tidak dengan membandingkan mereka dengan diri kita sendiri. Ini adalah tentang memperlambat, benar-benar mendengarkan, mengosongkan diri kita, dan menyingkirkan ego kita sendiri. Seperti yang dikatakan Han, menjadi ruang resonansi bagi orang lain untuk “berbicara dengan bebas.”
Tetapi kita perlu melakukan lebih dari sekadar mendengarkan. Hal lain yang bisa dilakukan untuk melawan dorongan narsistik untuk selalu efisien dan produktif—yakni ketika kita berada di luar nongkrong bersama orang-orang, dan tidak bisa berhenti merasa tidak nyaman karena kita beranggapan telah menyianyiakan waktu yang kita gunakan—adalah dengan mencoba memberikan ruang dalam hidup kita untuk hal-hal yang bukan tentang mengembangkan diri, mencari uang, atau menjadi produktif. Han mengatakan untuk menemukan ruang untuk melakukan hal-hal yang murni demi kegembiraan.
Keseimbangan tersebut—menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan waktu luang, dan menyisakan ruang untuk keduanya, sekaligus menghargai waktu istirahat—memang mudah untuk dilupakan dengan kehidupan yang serba cepat ini. Namun, sama seperti orang yang hanya menonton video TikTok, jika kita tidak menyeimbangkan produktivitas dengan dimensi lain dalam hidup, yaitu refleksi moral, kita tidak akan pernah mencapai tingkat pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan. Dan sekali lagi, anda akan membawa kedangkalan itu pada setiap pengalaman yang anda miliki.
Ketika berbicara tentang bagaimana Byung-Chul Han menjalani kehidupannya, dia terkenal karena berkebun, bekerja dengan tangannya, dan duduk dalam keheningan. Ini hanyalah salah satu contoh dari dirinya, tetapi anda bisa menemukan apa yang paling cocok untuk anda.
Han menyarankan siapa pun yang ingin menantang tatanan yang ada dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik—apakah anda seorang musisi yang menciptakan lagu baru, penari yang menciptakan gerakan baru, atau filsuf yang mengembangkan cara berpikir yang baru—perlu terlibat dalam pemikiran yang mendalam dan kontemplatif.
Dia berpendapat bahwa pemikiran seperti ini, kemampuan untuk merenungkan pada tingkat yang lebih dalam, adalah apa yang membedakan kita dari hewan. Kecenderungan surface-level multitasking yang sering terlihat dalam masyarakat kita yang berorientasi pada pencapaian adalah perilaku yang cenderung sering kita amati pada hewan. Untuk benar-benar membuat kemajuan, kita perlu menantang cara berpikir kita saat ini dan duduk dengan ide-ide yang benar-benar berbeda dari apa yang kita yakini saat ini. Itulah yang dibutuhkan dunia jika anda ingin menjadi seseorang yang mendorongnya maju.
Sekarang, seperti yang bisa anda bayangkan, ada beberapa tanggapan terhadap apa yang dikatakan Han. Bayangkan seseorang yang masih muda, ambisius, dan tinggal di salah satu masyarakat yang didorong oleh prestasi. Mereka mendengar Byung-Chul Han berbicara, dan mereka berpikir,
“Wow, saya belum pernah mendengar ada orang yang memberikan buku panduan yang begitu sempurna untuk membenarkan menjadi orang yang biasa saja dalam kehidupan.”
Orang ini mungkin berkata,
“Dengar, anda bisa menyebut apa yang saya lakukan narsis jika anda mau, karena saya bekerja untuk diri saya sendiri, karena saya ingin menjadi orang yang terbaik yang saya bisa untuk menafkahi keluarga saya. Tapi apa yang anda lakukan? Berkebun dan duduk diam? Menurut saya itu membuang-buang waktu. Setiap detik yang anda habiskan untuk beristirahat atau melakukan hal-hal yang hanya untuk bersenang-senang, ada orang lain di luar sana yang sedang bekerja keras, bekerja untuk mengambil semua yang anda miliki.
“Saya sedang berusaha untuk mendapatkan Bugatti, Saya pasti akan melambaikan tangan kepada anda dari mobil ini saat anda berada di pinggir jalan dengan waktu luang anda. Dan tentu saja, saya mengerti bahwa meluangkan waktu untuk refleksi moral itu penting, tetapi anda tidak perlu menjadi Socrates untuk memahami dasar-dasar bagaimana memperlakukan orang lain. Jangan menjadi orang yang brengsek. Jaga tanggung jawab anda. Ini bukan misteri alam semesta. Pemahaman moral dasar ini sudahlah cukup, dan begitu anda menguasainya, hambatan terbesar yang anda hadapi akan terpecahkan dengan meningkatkan nilai pasar anda. Begitulah cara kerja masyarakat, dan itulah yang akan saya lakukan.”
Namun, dari sudut pandang Byung-Chul Han, seseorang dapat menjawab, “Oke, saya mengerti, anda mendorong diri anda sendiri ke tingkat tertinggi. Tidak ada yang mengatakan untuk tidak bekerja keras atau bermalas-malasan adalah hal yang dapat diterima. Tetapi ada yang lebih penting dalam hidup ini daripada sekadar produktivitas dan efisiensi. Sangat mungkin untuk terjebak dalam pengoptimalan diri yang narsis ini sehingga anda mulai merasakan efek negatif dari pengabaian aspek-aspek lain dalam hidup. Kemudian, alih-alih menyadari hal itu, anda malah menyalahkan perasaan anda pada tantangan kehidupan modern yang tak terelakkan.
‘Oh, saya tidak punya teman karena sulit untuk mendapatkan teman di dunia sekarang ini. Saya tidak punya pasangan karena saya terlalu fokus pada karier. Saya berselisih dengan orang-orang di dunia maya karena ada begitu banyak orang yang tidak tahu apa-apa di luar sana. Namun, bukan suatu kebetulan jika seseorang yang mengendarai Bugatti tersebut hanya memiliki banyak hubungan yang dangkal, pemikiran yang sempit tentang cara memperlakukan orang lain, atau pemahaman yang terbatas tentang bagaimana dunia ini bekerja.
Seseorang mungkin berkata, ‘Tentu, anda bisa melambaikan tangan kepada saya dari Bugatti anda ketika saya sedang berada di dalam kebun, tetapi saya pasti akan membalas lambaian tangan anda, sendirian di dalam mobil anda, mengumbar omong kosong konspiratif yang anda anggap sebagai pandangan dunia, sambil memperlakukan orang lain seolah-olah anda masih duduk di bangku sekolah dasar.
Anda benar, anda tidak perlu menjadi Socrates, merenungkan moralitas sepanjang hari untuk menjalani kehidupan yang baik. Namun kenyataannya, orang tersebut bahkan tidak menyadari bahwa mereka kehilangan kedalaman yang tersedia dalam hidupnya. Mereka akan pada akhirnya menyadarinya, jika hanya ketika mereka menghabiskan sedikit waktu untuk berbicara dan lebih banyak waktu untuk berpikir.”
Penulis: Naufal Al Harist







