Kuliah Tamu Psikologi Perkembangan 2: Tentang Dinamika Psikologi Dewasa dan Orang Tua

by | Nov 14, 2024 | Berita

Memahami Dinamika Psikologi Dewasa dan Orang Tua: Momen penuh inspirasi saat Dr. Siti Muntomimah, M.Pd. membahas tiga tahap perkembangan dewasa dan pentingnya peran keluarga dalam mendukung anak dewasa.

Psikologi  UM – Malang, 14 November 2024 – Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang menyelenggarakan kuliah tamu yang menjadi bagian dari mata kuliah Psikologi Perkembangan 2 pada Jumat, 14 November 2024. Kegiatan ini berlangsung di Gedung B7 Fakultas Psikologi dan menghadirkan Dr. Siti Muntomimah, M.Pd., dosen Program Studi PG-PAUD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, sebagai narasumber. Dosen pengampu mata kuliah, Raissa Dwifandra Putri, M.Si., turut mendampingi acara ini yang dihadiri oleh mahasiswa Fakultas Psikologi.

Dengan tema Psikologi Dewasa dan Orang Tua, kuliah tamu ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam tentang berbagai aspek perkembangan psikologis individu pada tahap dewasa dan peran penting orang tua dalam mendukung anak-anak dewasa mereka. Dr. Siti Muntomimah membuka paparannya dengan membahas pentingnya memahami psikologi orang dewasa, yang tidak hanya membantu individu melalui tahapan perkembangan mereka, tetapi juga memungkinkan terjalinnya hubungan yang lebih harmonis antara generasi.

 Tiga Tahap Perkembangan Masa Dewasa

Salah satu inti materi yang disampaikan adalah teori perkembangan psikologis Elizabeth B. Hurlock, yang membagi masa dewasa menjadi tiga fase:

  1. Masa Dewasa Awal (18–40 tahun)
    Pada fase ini, individu cenderung fokus pada eksplorasi identitas, membangun karier, dan membangun hubungan. Dr. Siti menekankan bahwa tantangan utama masa dewasa awal adalah penyesuaian dengan tanggung jawab baru dan tekanan untuk mencapai stabilitas hidup.
  2. Masa Dewasa Madya (40–60 tahun)
    Fase ini sering disebut sebagai masa “evaluasi ulang” kehidupan, di mana individu mulai memprioritaskan tujuan jangka panjang dan stabilitas keluarga. “Masa ini ditandai dengan kebutuhan untuk mencapai keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan aspirasi pribadi,” jelas Dr. Siti.
  3. Masa Dewasa Lanjut (60 tahun ke atas)
    Memasuki usia lanjut, individu menghadapi perubahan fisik dan psikologis yang signifikan. Dr. Siti menyoroti pentingnya dukungan sosial dan emosional untuk membantu mereka menghadapi refleksi diri dan menikmati masa pensiun dengan damai.

Dr. Siti mengajak mahasiswa memahami pentingnya mendengarkan aktif dan membangun hubungan yang harmonis dengan keluarga.

Tantangan yang Dihadapi Orang Dewasa

Dr. Siti juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi oleh individu dewasa, seperti:

  • Perubahan fisik: Penurunan kekuatan otot, metabolisme yang melambat, dan risiko penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi.
  • Kesehatan mental: Stres akibat pekerjaan, kecemasan finansial, hingga depresi akibat kehilangan pekerjaan atau perubahan besar dalam kehidupan.
  • Hubungan sosial: Menavigasi hubungan yang semakin kompleks, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Baca juga:

Peran Orang Tua dalam Mendukung Anak Dewasa

Kuliah ini juga menyoroti peran orang tua dalam mendukung anak dewasa mereka, yang melibatkan keseimbangan antara memberikan bimbingan dan menghormati kemandirian anak. Narasumber menggarisbawahi tiga aspek utama dalam peran ini:

  1. Dukungan emosional: Memberikan ruang bagi anak untuk berbagi perasaan tanpa menghakimi.
  2. Bimbingan: Memberi nasihat berdasarkan pengalaman hidup, tetapi tetap menghormati keputusan anak.
  3. Batasan sehat: Menghormati privasi anak dewasa, sambil tetap hadir sebagai pendukung di saat diperlukan.

Refleksi diri dan keseimbangan hidup dalam menghadapi fase-fase dewasa. Inspirasi untuk mahasiswa Fakultas Psikologi!

Membangun Hubungan yang Kuat Melalui Komunikasi

Salah satu pesan penting dari kuliah ini adalah pentingnya komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak dewasa. Dr. Siti menyarankan tiga strategi utama untuk membangun hubungan yang harmonis:

  • Mendengarkan aktif: Memberikan perhatian penuh saat anak berbicara untuk menunjukkan empati.
  • Komunikasi terbuka: Mengutamakan kejujuran dan saling menghormati dalam percakapan.
  • Empati: Mencoba memahami perspektif anak dewasa dan menghargai pandangan mereka.

 

Antusiasme dan Diskusi Peserta

Mahasiswa yang hadir menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan seputar tantangan perkembangan di usia dewasa, seperti cara mengatasi kecemasan terkait karier dan membangun hubungan yang sehat dengan orang tua. Diskusi interaktif ini memperkaya wawasan peserta, terutama dalam mengaplikasikan teori perkembangan psikologi ke dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Raissa Dwifandra Putri, M.Si., kuliah tamu ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa dalam memahami perkembangan psikologi dewasa dan bagaimana peran keluarga dapat mendukung proses tersebut. “Kegiatan ini tidak hanya memperdalam teori, tetapi juga menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata yang dialami oleh individu dewasa,” ujarnya.

Dr. Siti menutup sesi dengan menekankan bahwa memahami psikologi dewasa dan orang tua adalah perjalanan berkelanjutan yang membutuhkan kesadaran, empati, dan komunikasi. “Dengan memahami dinamika ini, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih bermakna antara generasi,” tutupnya.

Kuliah tamu ini memberikan pengalaman belajar yang komprehensif dan relevan bagi mahasiswa, sekaligus menginspirasi mereka untuk terus mendalami kajian psikologi perkembangan pada tahap-tahap kehidupan manusia.

Pewarta: M Said