Penelitian Ilmiah ASTA BRATA oleh NINIK SETIYOWATI
Asta Brata : Pemetaan Kompetensi Kepemimpinan Jawa Untuk Meningkatkan Organizational Wellness Pada Institusi Pendidikan Di Jawa Timur
Ninik Setiyowati
Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kompetensi kepemimpinan berbasis budaya Jawa sekaligus merumuskan kamus kompetensi Asta Brata yang bisa digunakan sebagai rujukan dalam melakukan penilaian kinerja staf pada institusi pendidikan. Kepemimpinan merupakan aspek yang penting dalam mewujudkan organizational wellness. Organizational wellness meliputi serangkaian upaya untuk mewujudkan peningkatan produktivitas, kesejahteraan dan kesehatan staf, menjaga seluruh tim agar tidak mengalami stress kerja. Asta Brata (bahasa Sansekerta berarti delapan perilaku) merupakan seni kepemimpinan yang merujuk pada delapan simbol alam: bumi, laut, langit, bintang, matahari, bulan, angin, dan api. Setiap elemen mencerminkan karakteristik pemimpin yang ideal berdasarkan budaya Jawa. Tahapan penelitian ini dibagi menjadi tiga studi: (1) eksplorasi mengenai kepemimpinan melalui naskah ajaran Asta Brata menggunakan konten analisis, (2) mengembangkan kompetensi asta brata sesuai dengan hasil konten analisisnya, (3) mengelompokkan kompetensi berdasarkan rujukan kompetensi yang sudah ditemukan. Dari hasil penelitian ini ditemukan adanya empat kategori dasar kompetensi, yaitu: (1) kompetensi intrapersonal (kemampuan terkait pengenalan dan pengelolaan diri sendiri), (2) kompetensi human relation (hubungan antara pemimpin dengan orang lain yang tidak terkait pekerjaan), (3) working relation (hubungan pemimpin dengan orang lain dalam melaksakan pekerjaan) dan (4) Kompetensi job relation (hubungan pemimpin dengan pekerjaannya sebagai pemimpin).
Kata kunci: Asta Brata, Organizational wellness, Jawa, Content Analysis, Kompetensi,
Pendahuluan
Ketika seseorang berada dalam sebuah organisasi, ia diharapkan mempunyai kompetensi tertentu atas jabatan yang diembannya. Kompetensi merupakan karakter yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaan (Spencer, 1993). Sehingga dalam sebuah organisasi yang baik diperlukan sebuah pemetaan kompetensi untuk menentukan layak ataupun tidak seorang kandidat untuk mengisi sebuah posisi/ jabatan. Sebuah standart kompetensi dibutuhkan sebagai acuan kebijakan sebuah organisasi, dan perlu adanya rumusan secara detail dan teliti agar cara pandang seorang kandidat sesuai dengan visi misi organisasi. Hal ini akan berdampak pada individu yang dengan sadar diri mau untuk mengembangkan diri, dan mempunyai perencanaan karir maupun prestasi kerja yang berkesinambungan.
Institusi pendidikan merupakan sebuah oganisasi yang penting bagi kemajuan suatu bangsa. Apabila institusi pendidikan menjalankan peran dan fungsi secara tepat dan profesional, maka ia telah menyelamatkan sebuah generasi dari ancaman kebodohan dan karakter yang tidak tepat. Dengan demikian, tentu menjadi tugas sebuah institusi pendidikan untuk bekerja dan memberdayakan orang yang tepat sesuai dengan bidang keahlian dan memiliki kompetensi yang mendukung terselenggaranya peran dan fungsi pendidikan itu sendiri. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No.20 tahun 2003, pasal 3).
Pemerintah memprioritaskankan kebudayaan dalam proses pembangunan generasi muda sebagai bentuk National Character Building generasi muda Indonesia. Pembangunan karakter generasi muda Indonesia diharapkan dapat menjadi identitas anak bangsa di tengah era globalisasi dan akulturasi budaya dunia, serta dapat mendorong kemandirian dalam upaya peningkatan kemampuan daya saing generasi muda Indonesia (Arissetyanto, 2011 ).
Dalam kaitannya dengan pembangunan masa depan bangsa, Bung Karno, kerapkali mengungkapkan slogan Nation and Character Building. Suksesnya pembangunan suatu bangsa agar menjadi bangsa besar, dikatakan Bung Karno, mesti dimulai dengan pembangunan manusianya, yang diistilahkan beliau dengan man behind the gun. Selo Soemardjan menyebutnya dengan manusia pembangunanya, diantaranya adalah memiliki watak yang bermoral tinggi (Zuraida dan Rizal, 1993)
Sebuah model kompetensi yang berlandaskan konteks kebudayaan yang mempunyai relevansi diharapkan akan mampu membangun karakteristik insan pendidikan dengan moral tinggi serta profesional. Hal ini menjadikan kajian budaya mempunyai peran penting dalam proses perumusan sistem pendidikan.
Organisasi yang sehat memupuk budaya hormat dalam masyarakat yang didalam prosesnya mendukung: (1) pertumbuhan pribadi yang profesional, (2) kondisi yang berkeadilan, (3) komunikasi yang terbuka, (4) adanya nilai yang dibagi (Burton, 2010). Budaya organisasi yang sehat membangun kerangka strategis untuk menggabungkan nilai-nilai inti dalam misi, visi, dan tujuan stategis (Heathfield, 2008). Untuk mencapai kondisi ideal dalam sebuah organisasi, dibutuhkan budaya organisasi yang relevan dan positif. Secara berkebalikan, budaya yang unik dan khas juga memberi dampak kontekstual terhadap perkembangan ideal suatu organisasi.
Apabila dilihat dari sisi historis Jawa Timur memiliki ikatan budaya yang erat dengan kerajaan Mataram. Adanya akulturasi budaya yang berbeda menghasilkan keragaman budaya. Jawa Timur secara kultural dibagi dalam 10 wilayah kebudayaan yaitu; kebudayaan Jawa Mataraman, Panaragan, Samin (Sedulur Sikep), Arek, Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kengean (Ayu Sutarto dan Setyo Yuwono Sudikan, 2004). Mataraman merupakan daerah yang masih menerapkan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Daerah Mataraman secara administratif pemerintahan atau geo cultural meliputi; Pacitan, Ponorogo, Madiun, Magetan, Ngawi, Nganjuk, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, dan Blitar.
Asta brata merupakan warisan budaya Hindu Jawa yang lekat dengan kerajaan Mataram dan secara filosofis merupakan pedoman mengenai kepemimpinan ideal. Didalam komponen Astra Brata, meliputi delapan unsur alam, yaitu; bumi, matahari, api, samudra/ langit, angin, bulan, air dan gunung/ bintang.
Penelitian ini memfokuskan pada kompetensi Asta Brata di institusi pendidikan yang mengambil subyek masyarakat Jawa Mataraman. Secara kontekstual, model kompetensi yang mengadopsi budaya lain kurang relevan apabila dihadapkan dengan kondisi geo-cultural Jawa yang unik dan khas. Kompetensi Asta Brata relevan diterapkan di institusi pendidikan di Jawa Timur karena Asta Brata merupakan falsafah kepemimpinan Jawa yang lengkap dan komprehensif. Ia merepresentasikan karakteristik ideal yang mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta.
Landasan Teori
Kompetensi
Menurut Spencer (1993: 9), kompetensi adalah sebagai karakter yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaannya (an underlying characteristic’s of an individual which is causally related to criterion – referenced effective and or superior performance in a job or situation). Underlying Characteristics mengandung makna kompetensi adalah bagian dari kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan. Causally Related memiliki arti kompetensi adalah sesuatu yang menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja. Criterion Referenced mengandung makna bahwa kompetensi sebenarnya memprediksi siapa yang berkinerja baik, diukur dari kriteria atau standar yang digunakan.
Asta Brata
Serat Rama (Soetomo, Sujata, Astusi, 1993), dikisahkan sebagai wejangan Rama kepada Wibisana untuk memimpin kerajaan Ngalengka. Serat Rama merupakan gubahan dari Ramayana Kakawin yang ditulis dalam bahasa Jawa modern oleh Yasadipura I (1729-1803 M) seorang sastrawan Jawa kuno yang berasal dari Kasunanan Surakarta (Ricklefs, 1991). Asta Brata berasal dari bahasa Sansekerta, yang di dalamnya mencakup Asta (delapan) dan Brata (perilaku atau tindakan pengendalian diri). Asta Brata melambangkan kepemimpinan ideal yang merupakan manifestasi delapan unsur alam, yaitu; bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang.
Ilmu Asta Brata mulai diperkenalkan melalui lakon pewayangan Wahyu Makutharama. Pemimpin yang menguasai ilmu Asta Brata ini akan mampu melakukan internalisasi diri (pengejawantahan) ke dalam delapan sifat agung yang mewakili simbol kearifan dan kebesaran Sang Pencipta. Yasadipura I (1729-1803 M), pujangga keraton Surakarta menuliskan Asta Brata sebagai delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi atau sifat alam, yaitu:
- Mahambeg Mring Kismo (meniru sifat bumi). Bumi, dalam hal ini diintepretasikan sebagai ibu pertiwi. Bumi memiliki peran sebagai ibu yang didalamnya mengandung perilaku memelihara dan menjadi pengasuh, pemomong, dan pengayom bagi makhluk yang hidup di bumi. Implementasinya adalah, Pemimpin harus memiliki unsur bumi yang mampu mengayomi dan melindungi anak buahnya. Secara praktik, sifat bumi juga memunculkan perhatian kepada kaum lemah dan mengarahkan kekuasaannya untuk mensejahterakan rakyat dan mengentaskan kemiskinan. (Sudharta, 2006)
- Mahambeg Mring Warih (meniru sifat air). Seorang pemimpin harus mempunyai sifat air yang mengalir. Implementasinya pemimpin harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri baik dengan orang lain maupun dengan lingkungan sekitarnya. Ia juga mampu memperhatikan potensi, kebutuhan dan kepentingan pengikutnya dan memiliki kemampuan untuk membuka pikiran seluruh tim kerjanya secara luas. Selain itu, pemimpin memiliki kemampuan untuk menerima pendapat dari bawahan dan memikirkan baik-baik semua pendapat yang ada. (Sudharta, 2006)
- Mahambeg Mring Samirono (meniru sifat angin). Pemimpin yang menguasai sifat angin adalah ia yang selalu terukur bicaranya. Implementasinya adalah pada perilaku kehati hatian dalam bertindak dan perkataannya selalu disertai argumentasi serta dilengkapi data dan fakta. Kehati-hatian ini termasuk didalamnya melakukan check and recheck sebelum berbicara atau mengambil keputusan. (Sudharta, 2006)
- Mahambeg Mring Condro (meniru sifat bulan). Pemimpin melandasi tindakan dan perkataannya dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosio-emosional. Implementasinya, pemimpin memperhatikan harkat dan martabat pengikutnya sebagai sesama. Dalam istilah Jawa, perilaku tersebut dinamakan nguwongke. Selain itu, dalam perilaku kesehariannya ia mampu menjadi penuntun dan memberikan pengarahaan baik bersifat konkrit maupun ideologis kepada bawahannya. Konsep ini juga berkaitan erat dengan kemampuan pemimpin dalam memahami dan mengamalkan ajaran luhur yang terkandung dalam agama (religiusitas) dan menjunjung tinggi nilai-nalai moralitas. (Sudharta, 2006)
- Mahambeg Mring Suryo (meniru sifat matahari). Seorang pemimpin yang menguasai sifat matahari mampu memberikan energi positif berupa inspirasi dan semangat kepada rakyatnya. Implementasinya adalah kemampuan pemimpin untuk mendorong penyelesaian masalah. Hal ini meliputi kemampuan memberi petunjuk dan solusi atas masalah yang dihadapi bawahannya. (Mittal, 2006)
- Mahambeg Mring Samodra (meniru sifat laut/ samudra). Dalam Pustakaraja Purwa disebut langit. Dalam Manawa Dharmacasta, Serat Rama dan Niti Sruti disebut Baruna (Lautan). Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan hati dan pandangan. Implementasinya adalah perilaku pemimpin yang mampu menampung semua aspirasi dari oranglain dengan sabar, penuh kasih sayang, dan pengertian terhadap rakyatnya. Selain itu, Pemimpin harus memiliki wawasan yang luas berkaitan dengan pekerjaan ataupun bidang keilmuan lain yang relevan. (Sudharta, 2006)
- Mahambeg Mring Wukir (meniru sifat gunung). Seorang pempimpin hendaknya memiliki sifat gunung yang teguh dan kokoh. Implementasinya adalah ia harus memiliki keteguhan-kekuatan fisik dan psikis. Pempimpin tidak mudah menyerah untuk membela kebenaran maupun membela bawahannya. (Sudharta, 2006)
- Mahambeg Mring Dahono (meniru sifat api). Seorang pemimpin hendaknya menguasai sifat api. Implementasinya adalah ia harus cekatan dan tuntas dalam menyelesaikan persoalan. Pemimpin harus menunjukkan konsistensinya terhadap suatu tugas maupun prinsip. Ia juga mampu objektif dalam menegakkan aturan, tegas dan tidak memihak. (Pudja, 1980)
Metode Penelitian
Metode penelitian ini adalah dengan menggunakan content analysis atau analisis isi. Analisis isi ini mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi (Lasswell, 1952). Metode analisis isi adalah suatu teknik untuk mengambil kesimpulan dengan mengidentifikasi berbagai karakteristik khusus suatu pesan secara objektif, sistematis, dan generalis (Holsti, 1969). Secara detil dijelaskan sebagai berikut: (1) Objektif, artinya menurut aturan atau prosedur yang secara konsisten akan menghasilkan kesimpulan yang serupa apabila diteliti oleh peneliti yang berbeda, (2) Sistematis artinya penetapan kategori dilakukan menurut aturan yang diterapkan secara konsisten yang terdiri dari penjaminan seleksi dan pengkodingan data agar tidak terjadi bias, (3) Generalis artinya hasil temuan penelitian memiliki referensi teoritis sehingga informasinya dapat dihubungkan dengan atribut lain dari dokumen dan mempunyai relevansi teoritis yang tinggi.
Hasil Penelitian
Gambar 1. Pemetaan kompetensi organisasi masyarakat Jawa Timur
Masyarakat Jawa Timur masih sangat kental terhadap budaya dasar Mataram. Ada 10 sub kultur budaya Jawa Timur, namun yang paling jernih alur regenerasi budaya kerajaan Mataram adalah sub kultur Jawa Mataraman. Sedangkan 9 sub kultur lainnya sudah mengalami penyatuan dengan budaya lokal maupun terakulturasi dengan budaya lain. Adapun ciri khas Jawa Mataraman adalah masih kuatnya budaya guyup ruyun dan tepo seliro dalam keseharian mereka. Mereka juga memiliki kemampuan untuk senantiasa bersyukur dan menerima setiap kejadian yang menimpanya tanpa berkeluh kesah. Budaya Mataraman menonjolkan kesantunan, sabar, paternalistik dan aristokratik. Sedangkan prioritas hidup mereka lebih mengutamakan kebahagiaan yang dirasakan bersama.
Gambar 2. Pemetaan organisasi Leadership berdasarkan Asta Brata
Hasil analisis isi yang dilakukan pada serat Rama yang tertuang dalam Niti Sruti, Rama Jarwa dan Wahyu Makuthoromo (Yasasusastra, 2011) menunjukkan adanya komponen kompetensi yang muncul pada masing masing simbol alam yang digambarkan oleh Asta Brata.
Gambar 3. Pengelompokkan kompetensi berdasarkan rujukan kompetensi Asta Brata
Pengelompokan kompetensi Asta Brata ini mengikuti kesesuian indikator kompetensi yang mencakup 4 aspek. Yaitu:
- Job Relation: Hubungan antara pemimpin dengan pekerjaan yang dilakukannya sesuai dengan yang tertulis dalam job description, yaitu (a) Analythical Thinking, (b) Planning And organizing, (c) Thoroughnes, (d) Result Orientation, (e) Vision And Strategic thinking.
- Working Relation: hubungan antara pemimpin dengan staf yang berada di bawah kepengawasan dan kewenangannya yang berkaitan erat dengan tugas pokok kepemimpinan, yaitu (a) Conflict Management, (b) Decision Making, (c) Problem Solving, (d) Initiative, (e) Team leadership.
- Human Relation: hubungan antara pemimpin dengan staf di lingkungan pekerjaannya, (tidak harus berada dalam kepengawasan dan kewenangannya), yang menekankan pada harmonisasi hubungan sesama manusia, yaitu (a) Interpersonal Relationship. (b) Providing Motivational Support, (c) Empowering Other, (d) Developing Other, (e) Persuasion, (f) Effective Communication, (g) Valuing Diversity.
- Intrapersonal Management: hubungan antara pemimpin dengan dirinya sendiri sebagai manusia yang memiliki kemampuan mengontrol diri, yaitu (a) Self Control, (b) Empathy, (c) Enjoyment of the job, (d) Personal Credibility (e) Self Confidence, (f) Firmness, (g)Adaptability, (h) Listening, Understanding, Responding.
Pembahasan
Kompetensi Asta Brata meliputi 8 unsur alam yang mencakup 4 kategori. Adapun 4 kategori tersebut berkaitan dengan hubungan pemimpin dengan pekerjaannya, hubungan pemimpin dengan orang lain dalam pekerjaannya, hubungan pemimpin dengan orang lain dalam seluruh aspek kesehariannya, dan hubungan pemimpin dengan managemen terhadap dirinya.
Secara kontekstual, aspek budaya dalam dunia pendidikan ini memegang peranan penting menentukan harapan masyarakat mengenai figur ideal. Pihak yang akan menjadi penentu generasi bangsa, diharapkan akan mengambil peran sebagai raja dengan seluruh kompetensi ideal seperti yang digambarkan dalam kompetensi asta brata. Dengan demikian, guru, dosen, dan tenaga pendidik di level apapun bisa memberi keteladanan perilaku bagi seluruh peserta didiknya.
Dari hasil pemetaan mengenai konsep Asta Brata, yang paling menonjol dari model kepemimpinannya adalah posisi pemimpin yang tidak berada setara dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin dalam konteks ini mengambil posisi sebagai pihak yang menjadi pusat pengendalian keputusan dan pusat penyelesaian masalah. Pemimpin juga mengambil peran mendorong, menopang dan memotivasi bawahan dan secara personal menjadi role model dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencakup permasalahan yang berkaitan dengan hubungan dengan pekerjaan maupun hubungan sesama manusia. Perilaku pemimpin disamakan dengan manifestasi ketuhanan yang ada pada diri manusia.
Dalam konteks pendidikan, di Jawa Mataraman para guru, dosen dan tenaga pendidik lainnya diharapkan memegang peran tersebut. Hal ini sejalan dengan model karakteristik dasar masyarakat Jawa Mataraman yang membutuhkan figur pemimpin dalam proses hidupnya. Hal ini pun terjadi pada konteks kelas. Para siswa, mahasiswa pada masyarakat Jawa Mataraman memiliki kecenderungan membutuhkan bimbingan pihak yang memegang otoritas.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini ditemukan model kompetensi Asta Brata yang didalamnya terdapat 4 kategori: (1) kompetensi intrapersonal (kemampuan terkait pengenalan dan pengelolaan diri sendiri), (2) kompetensi human relation (hubungan antara pemimpin dengan orang lain yang tidak terkait pekerjaan), (3) working relation (hubungan pemimpin dengan orang lain dalam melaksakan pekerjaan) dan (4) Kompetensi job relation (hubungan pemimpin dengan pekerjaannya sebagai pemimpin).
Saran
Model kompetensi Asta Brata ini diharapkan dapat diterapkan secara berkesinambungan dalam proses perekrutan tenaga pendidik, sebagai dasar rancangan pengembangan SDM maupun model evaluasi di institusi pendidikan di Jawa Timur.
Daftar Pustaka
Arissetyanto, Nugroho (2011, November 7). Membangun Daya Saing Generasi Muda Indonesia. e-paper : http://beta.mediaindonesia.com/news/2011/11/07/1133859/ diakses pada tanggal 10 November 2015
Burton, Joan (2010). WHO Healthy Workplace Framework and Model: Background and Supporting Literature and Practices Submitted to Evelyn Kortum WHO Headquarters, Geneva, Switzerland
Holsti,O.R.(1969).Content Analysis for the Social Sciences and Humanities. Reading: MA Addison-Wesley.
Lasswell, H.D., Daniel L. & Ithiel de S.P. (1952). The Comparative Study of Symbols. Stanford, CA: Stanford University Pres
Mittal, M (2006). Intisari Weda. Surabaya: Paramita
Pudja. G, MA, SH & W. Sadia (1981). Reg Weda: Mandala II & III. Departemen Agama Republik Indonesia.
Ricklefs, M. (1991). Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Shealtfield, Susan (2008). Employee Wellness Health and Safety – Increase Employee Wellness Health and Safety dalam https://www.oasas.ny.gov/AdMed/documents/OWEworkbook.ppt. di akses pada tanggal 10 November 2015
Soetomo, Sujata, P. Astusi, S. (1993). Serat Rama. Semarang: Yayasan Studi Bahasa Jawa
Spencer, Signe M. (1993). Competence at Work. Canada: John Willey and Sons, Inc.
Sudharta, T.R, (2006) Kepemimpinan Hindu Asta Brata dan Nasehat Sri Rama Lainnya. Surabaya: Paramita
Sutarto, Ayu dan Sudikan, S.Y (2004). 10 Pembagian Wilayah Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Thesis
Undang-undang Republik Indonesia, Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, diakses dari www.kemenag.go.id/file/dokumen/UU2003.pdf pada tanggal 10 November 2015,
Yasasusastra, J.S. (2011). Asta Brata: 8 Unsur Alam Symbol Kepemimpinan. Yogyakarta: Pustaka Mahardika
Zuraidah, Desire& Rizal, J (eds.). (1993). Masyarakat dan Manusia dalam Pembangunan: Pokok-Pokok Pikiran Selo Soenardjan. Jakarta: Sinar Harapan.

