Neo menjelaskan perbedaan antara hak pekerja formal dan non-formal, memperkuat perlindungan hukum.
Psikologi UM – Sebuah tim multidisiplin yang terdiri dari tiga ahli meluncurkan program pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Pendampingan Holistik dan Advokasi Inklusif Berbasis Komunitas untuk Mendukung Kesejahteraan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan”. Program ini dirancang untuk memberikan dukungan menyeluruh, mulai dari perlindungan hukum, fasilitas fisik, hingga pendampingan psikologis bagi PMI yang kerap menghadapi tantangan kompleks di perantauan.
Tim ini diketuai oleh Hasan Ismail, S.Pd., M.Sc., Ph.D., seorang engineer yang fokus mendorong layanan rumah singgah nyaman dan mudah diakses sebagai tempat perlindungan bagi PMI. Beliau juga menekankan bahwa PMI perlu mulai produktif dengan cara yang positif, memanfaatkan fasilitas yang ada serta rajin meng-upgrade diri demi kepentingan pribadi maupun keseluruhan PMI di Taiwan melalui keterlibatan yang positif dalam kegiatan komunitas PMI. Sementara Neo Adhi Kurniawan, S.Pd., S.H., M.H., dosen hukum dan pengacara, memberikan advokasi hukum terkait hak-hak dasar PMI di Taiwan. Adapun Ninik Setyowati, S.Psi., M.Psi., Ph.D., psikolog dan dosen psikologi, memimpin pendampingan psikologis dan psikoedukasi untuk meningkatkan psychological wellbeing PMI.
Baca juga:
Expert Sharing Session FPsi UM Bahas HRV dan Biofeedback dalam Praktik Psikologi
Tingkatkan kompetensi mahasiswa, FPsi UM hadirkan kuliah umum tentang penggunaan teknologi HRV. Psikologi UM - Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang menyelenggarakan Expert Sharing Session bertajuk “A Knowledge‑Frontier Session on HRV and Psychological...
Mahasiswa S2 dan Dosen Psikologi UM Dorong SDGs melalui Inovasi R.E.D Card untuk Penguatan Kesehatan Mental Mahasiswa Pejuang Skripsi
Dr. Hanggara Budi Utomo, M.Psi. memberikan materi dalam workshop kesehatan mental untuk membekali mahasiswa PGSD UM regulasi emosi dan motivasi akademik dalam menyelesaikan skripsi. Psikologi UM - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) berkolaborasi...
Inisiatif ini menjadi contoh praktik baik kemitraan (SDG 17) antara akademisi dan komunitas diaspora.
Fokus Pendampingan Psikologis
Adapun pada pendampingan kesejahteraan psikologis, Ninik Setyowati menekankan pentingnya kesehatan mental sebagai fondasi kesejahteraan PMI. Dalam workshop yang digelarnya, ia memaparkan materi “Mengenal Diri & Memetakan Kesejahteraan Mental”, yang mencakup:
- Pentingnya Self-Awareness: Mengenali diri melalui Jendela Johari (diri terbuka, tersembunyi, buta, dan tak dikenal) untuk memahami emosi, stres, serta potensi diri.
- Tantangan Psikologis PMI: Seperti homesickness, isolasi sosial, adaptasi budaya, dan ketidakpastian kerja yang memicu kecemasan atau depresi.
- Framework Kesejahteraan psikologis Ryff: Enam dimensi kesejahteraan mental meliputi otonomi, penguasaan lingkungan, pertumbuhan pribadi, hubungan positif, tujuan hidup, dan penerimaan diri.
- Strategi Praktis:
- Mindfulness (meditasi, latihan pernapasan, afirmasi positif bahwa kitalah yang mampu menciptakan kebahagiaan kita sendiri tanpa perlu menunggu orang lain).
- Menjaga koneksi sosial dengan keluarga dan komunitas.
- Penetapan tujuan realistis dan perawatan kesehatan fisik.
Ninik juga menyoroti perlunya melawan stigma kesehatan mental dengan normalisasi mencari bantuan profesional, seperti melalui hotline atau support group. “Kesejahteraan mental adalah hak semua orang, termasuk PMI. Mengakui kebutuhan psikologis adalah langkah awal menuju kehidupan yang optimal,” tegasnya.
Kolaborasi Holistik Tim
Program ini menggabungkan keahlian ketiga anggota tim:
- Hasan Ismail telah menginisiasi dan merancang rumah singgah dengan fasilitas ramah mental, yang telah menyediakan ruang konseling dan area relaksasi.
- Neo Adhi Kurniawan memberikan edukasi mengenai pemahaman dasar dasar hukum agar PMI memahami hak mereka, termasuk kontrak kerja dan mekanisme pengaduan.
- Ninik Setiyowati mengadakan sesi teratur untuk pemantauan kesehatan mental PMI dan melatih peer counselor dari komunitas.
Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3, 16 dan 17 yakni kehidupan sehat dan sejahtera; perdamaian, keadilan, dan kelembagaan yang tangguh; dan kemitraan untuk mencapai tujuan.
Berfoto bersama sebagai simbol kemitraan global dalam mendukung hak dan kesejahteraan pekerja migran.
Pewarta: Ninik S








